
Pagi menjelang siang, puluhan orang berjalan kaki menuruni jalan desa. Tampak semuanya mengenakan kaos warna biru bertuliskan Kostajasa di bagian punggungnya. Kami berbincang dengan salah satu orang. Namanya Prayogi. Dia dan rekan-rekannya baru saja melakukan penanaman pohon. Pria paruh baya itu kemudian mengantarkan kami ke lokasi penanaman. Setelah berjalan kaki sepanjang 500-an meter menuruni jalan kampung, melewati jalan setapak dan menyeberangi anak sungai, sampailah kami di lahan milik bapak 3 anak itu.

Sebanyak 100 bibit pohon albasia telah ditanam di lahan seluas seperempat ha. Di lahan itu sebelumnya pernah ditumbuhi pohon kelapa, cengkeh, duku, dan albasia. Tapi kini cuma tersisa beberapa pohon kelapa saja. Pertengahan tahun lalu lahan yang posisinya menyerupai lereng perbukitan itu longsor. Prayogi merasa senang dan berterima kasih kepada Kostajasa yang telah memilih lahannya sebagai salah satu lokasi penanaman.
Hari itu (5/1/2017) Koperasi Taman Wijaya Rasa (Kostajasa) mengadakan kegiatan penanaman pohon di 6 lokasi di desa Wonoharjo, Kecamatan Rowokele, Kabupaten Kebumen. Drs Sunarto FM, Ketua Kostajasa, mengatakan Kostajasa telah berkomitmen untuk menjaga kelestarian hutan di wilayahnya melalui regenerasi pohon dan memberikan pelatihan pengelolaan hutan secara lestari kepada para anggotanya.
Kegiatan penanaman pohon itu dilakukan untuk mengganti pohon-pohon yang sudah ditebang sesuai Jatah Tebang Tahunan (JTT) di lahan milik anggota Kostajasa. Selain itu, penanaman juga dilakukan di lahan bekas longsor seperti di lahan milik Prayogi yang bukan anggota Kostajasa. Hal ini sebagai bentuk komitmen Kostajasa terhadap lingkungan di sekitar lahan hutan rakyat yang dikelola anggotanya. Jumlah bbit yang ditanam pada pagi itu sebanyak 600 dari total 3.500 yang terdiri dari pohon sengon, sungkai, mahoni dan albasia.
“Kegiatan penanaman pohon di Desa Wonoharjo ini merupakan langkah awal dari Penanaman Pohon Komitmen Bersama yang akan dilanjutkan pada hari berikutnya di seluruh Kelompok Tani Hutan Rakyat (KTHR) Kostajasa. Tebang 1 dan tanam 5 pohon menjadi prinsip kami dalam menjaga kelestarian hutan Kostajasa,” paparnya di hadapan para undangan.
Melibatkan Banyak Pihak
Kegiatan yang diadakan oleh Kostajasa melibatkan banyak elemen masyarakat. Selain dari Kadang Tani Alas (istilah setempat untuk menyebut Kelompok Tani Hutan, red) Kostajasa sendiri, kegiatan itu juga mendapatkan dukungan dari karang taruna desa setempat yang pada hari itu mengenakan kostum kuning-hitam membantu dengan penuh semangat gotong royong dalam kepanitiaan. Juga siswa SD dan SMP yang tampak mengikuti kegiatan penanaman di pagi hari. Tak ketinggalan Persatuan Rakyat Penyelamat Karst Gombong (Perpag), Komunitas Kebumen Bae Lah, serta Komunitas Likuran Paseduluran, juga ikut andil dalam kegiatan. Singkatnya, lebih dari 450 orang terlibat dalam kegiatan tersebut.

Jumlah itu belum termasuk warga setempat yang turut memadati lokasi kegiatan, entah apakah karena ingin melihat keramaian hiburan atau bisa jadi karena ingin melihat langsung bupati mereka. Bendera umbul-umbul yang dipasang di beberapa titik di sepanjang jalan desa, juga pedagang kaki lima dadakan yang menjajakan aneka makanan ringan di sekitar lokasi kegiatan, menambah meriah suasana.
Para anggota Kostajasa yang beberapa jam lalu mengikuti kegiatan penanaman pohon tampak duduk-duduk bersantai di sekitaran panggung. Seorang biduan sedang membawakan lagu dangdut dengan iringan orkes melayu dari Muhaimin Entertainment. Suasana bertambah semarak ketika beberapa orang naik ke atas panggung menemani biduan yang lainnya membawakan lagu dangdut campursari. Orang-orang itu tampak bergembira dan guyub, seolah hari itu mereka sedang merayakan hari kemenangan.
Menurut Untung Karnanto, TFTers yang mendampingi Kostajasa, kegiatan penanaman pohon itu sekaligus sebagai ajang silaturahmi para anggota Kostajasa.
Mendapat Apreasiasi Luas
Pertengahan tahun 2016 lalu Kebumen dilanda banjir dan longsor. Bencana itu tak hanya meninggalkan kerugian materiil tapi juga memakan korban jiwa. Desa Wonoharjo menjadi salah satu lokasi yang terdampak cukup parah. Warga sempat terisolir karena jalan utama desa putus tertimbun material longsor. Hampir semua jembatan mengalami kerusakan. Belum lagi 3 bendungan yang menjadi sumber pengairan bagi warga hancur.
“Kejadian tersebut tidak semata kehendak Yang Maha Kuasa, tapi juga kelalaian dari kita, kurangnya kepedulian kita terhadap lingkungan. Mari kita jadikan kegiatan penanaman ini sebagai kegiatan untuk melestarikan alam. Karena ketika kita menanamkan pohon, berarti kita juga sedang menanamkan doa untuk anak-cucu kita,” kata Sri Budi Murnianto, kepala Desa Wonoharjo.
Kegiatan yang diadakan oleh Kostajasa juga mendapatkan apreasiasi dari Bupati Kebumen M Yahya Fuad yang turut hadir dalam kegiatan. Bupati mengatakan, menanam pohon tidak hanya untuk menjaga hubungan manusia dengan alam, tapi juga untuk sedekah dan ibadah. Menanam pohon sama dengan menanam kebaikan. Dia berharap kegiatan ini dapat menumbuhkan kesadaran warga untuk melestarikan lingkungan. Orang nomor satu di Kebumen itu mengajak para kepala desa untuk mendorong warganya memanfaatkan lahannya walaupun cuma sejengkal.

“Gerakan semacam ini jika dilakukan secara masif, dan lebih banyak terduplikasi, insya Allah Kebumen akan hijau. Semoga bisa ditiru oleh kelompok lain, oleh daerah lain, entah itu tanaman keras, buah-buahan, maupun sayuran,” katanya penuh semangat yang diikuti tepuk tangan meriah dari para undangan dan warga sekitar yang turut memadati lokasi kegiatan.
Soal menanam pohon, bupati punya cerita unik. Suatu kali dalam kunjungannya ke desa Piyungan, Kecamatan Wonosari, Yogyakarta, dia mendapatkan cerita bahwa warga setempat mempunyai tradisi orang tua mewariskan pohon jati kepada anak-anaknya. “Kalau yang diwariskan 30 pohon, satu pohon jati harganya berapa dikalikan saja,” katanya seraya menambahkan bahwa tradisi seperti ini baik untuk ditiru.
Selain untuk melestarikan lingkungan dan menambah penghasilan bagi warga, Bupati mengatakan bahwa kegiatan yang dilakukan oleh Kostajasa dalam mengelola hutan rakyat dan dia berharap dapat diduplikasi dalam kegiatan penghijauan lainnya, dapat dikembangkan sebagai rintisan wisata alam yang menjadi salah satu program pemerintah daerah Kebumen.
Kegiatan yang diadakan oleh Kostajasa diberitakan oleh beberapa media, baik itu media cetak maupun online. Di media cetak, beritanya muncul di Suara Merdeka, salah satu koran tertua dan terbesar di Jawa Tengah. Juga di Kebumen Ekspress yang merupakan anak perusahaan dari Jawa Pos Group. Di media online beritanya menjadi viral dan jejak beritanya lebih dari satu halaman pencarian di mesin pencari google. Itu belum termasuk berita dari kegiatan-kegiatan Kostajasa sebelumnya yang pernah diliput oleh media.
Apreasiasi dari masyarakat, pemerintah dan media itu muncul karena kehadiran Kostajasa telah memberikan manfaat kepada masyarakat luas dan rekam jejaknya telah berlangsung lebih dari satu dekade. (bersambung-diambil dari Bulletin Spark)

Leave a Reply