GELIAT PONGKOR

pongkorPagi itu pak Murto datang dari ladang dengan peluh yang masih bercucuran, pongkor (tempat menampung air nira kelapa yang terbuat dari bambu) diletakannya hati-hati agar tidak tumpah isinya.  Tidak kurang dari 30 pohon kelapa yang pagi itu dipanjat oleh pak Murto untuk mengambil nira dengan mengganti Pongkor pada tiap pohonnya dengan yang masih kosong. Kedatangan pak Murto disambut bu Ratiyah dengan membawa baskom dan saringan.  Semua isi pongkor itu disaring dan dimasukan ke dalam baskom yang dibawanya.  Sementara bu Ratiyah menyaring nira hasil sadapan pagi itu, pak Murto membersihkan pongkor yang kosong itu dengan teliti, kemudian disimpannya pongkor-pongkor itu secara terbalik pada rak bambu yang ada di belakang rumahnya.

Bu Ratiyah dengan cekatan menuang nira yang sudah disaring dalam wajan yang sudah tersaji di tungku yang membara.  Sangat sedikit asap yang mengepul di mulut tungku, karena sudah dibuat cerobong asap meskipun sederhana.  Tangan terampil bu Ratiyah segera mengaduk nira yang sudah mulai mendidih dengan tetap menjaga bara api dalam tungku sederhananya.

P_20161009_120858Begitulah kesibukan setiap harinya keluarga bu Ratiyah dan juga keluarga-keluarga lain di Desa Wonoharjo Kecamatan Rowokele Kabupaten Kebumen, khususnya di 3 dusun yakni Dusun Sawangan, Wonosari dan Dusun Beji.  Desa yang subur dengan berbagai tanaman keras dan juga beberapa jenis buah-buahan baik itu Durian, Manggis serta Duku.

Desa Wonoharjo termasuk desa yang menjadi pionir dalam kegiatan Pengelolaan Hutan Rakyat Lestari yang tergabung di Koperasi Taman Wijaya Rasa disingkat KOSTAJASA.  Sudah sejak tahun 2010 Kostajasa mencoba memulai pengembangan usaha selain penjualan log bersertifikat FSC®.  Gula merah atau gula kelapa yang merupakan penghasilan harian anggota Kostajasa di beberapa desa menjadi perhatian Pengurus dan Manajemen.  Awalnya mencoba memasok ke beberapa pedagang gula merah yang ada di pasar-pasar tradisional.  Namun sangat sulit bagi manajemen Kostajasa untuk menembus pasar khusus ataupun pasar tradisional dengan persaingan harga yang ada.  Terlebih lagi karena penjualan gula merah masih sama dengan produk lain di pasaran yaitu gula merah cetak. Pengurus dan manajemen Kostajasa dengan terpaksa melakukan penghentian usaha penjualan gula merah cetak ini.

Beji adalah Sumber Air

Akhir tahun 2016 kembali pendamping TFT menggugah semangat untuk pengembangan usaha di bidang penjualan gula merah namun tidak dalam bentuk cetak tapi dalam bentuk serbuk.   Di sela-sela kesibukan untuk melaksanakan kegiatan menutup CAR (Corrective Action Request) FSC dari surveillance pertama, staff TFT bersama pak Ripan dan bu Wiga mulai menggali informasi terkait produksi dan harga pasar gula merah serbuk.  Beberapa pengepul gula dan petani yang memproduksi gula merah serbuk diwawancarai untuk memperoleh data tentang supply chain dan juga perbandingan harga di tiap-tiap tingkatan.

Pendamping dari TFT mencoba berdiskusi dengan calon mitra yang sekiranya dapat ikut membantu memasarkan produk gula merah serbuknya.  Diskusi marathon untuk dapat memproduksi dan memasarkan produk gula merah dari petani anggota Hutan Rakyat Lestari Kostajasa berlangsung sejak Agustus 2016.  Beruntung ada mitra yang bisa dan semangat untuk ikut memajukan dan meningkatkan pendapatan keluarga petani pembuat gula merah serbuk.  Kesamaan visi dan misi antara PT. Cetrofarm – Semarang sebagai mitra yang digandeng dengan Kostajasa menjadikan tidak berbelitnya pembahasan.  Manajemen PT. Cetrofarm langsung melakukan beberapa kali studi pasar dan juga desain kemasan yang selaras dengan kegiatan Kostajasa.  Melalui beberapa kali diskusi akhirnya dibuatlah desain kemasan pertama menggunakan kertas bersertifikat FSC.

Pemilihan nama produk/merek pada kemasan melalui diskusi intensif dengan acuan, marketable, menarik, namun tidak menghilangkan jiwa dari kehidupan petani hutan rakyat Kostajasa.  Melalui diskusi antara pendamping dengan manajemen Kostajasa yang intens dan menilik literatur maupun riwayat-riwayat yang ada di desa-desa dalam areal kerja Kostajasa, disepakatilah merek dagang untuk produk gula merah serbuk Kostajasa dengan nama “mBeji”.

Beji atau masyarakat mudahnya membacanya dengan “mBeji” sering dipergunakan sebagai penamaan untuk sumber-sumber air (mata air) di desa-desa.  Mbeji yang merupakan sumber air oleh masyarakat pastinya akan dikeramatkan dan dijaga lingkungan sekitarnya, karena air adalah sumber penghidupan warga.  Beruntung Cetrofarm memiliki kedekatan hubungan dengan beberapa retailer yang dapat dititipkan produk gula serbuk merah Kostajasa untuk “market trial”.  Pendagula mbejimping TFT dan manajemen Kostajasa segera mengumpulkan beberapa ibu-ibu istri dari anggota Kelompok Tani Hutan dampingan Kostajasa di Desa Wonoharjo, untuk dilatih bagaimana mengkemas gula dengan kertas kemasan yang sudah disiapkan.  Dengan semangat, ibu-ibu itu mengikuti instruksi dari pendamping TFT dalam mengemas gula hasil produksi tetangga mereka.  Ibu-ibu yang dilibatkan dalam pengemasan tidak membuat gula di rumahnya, sehingga dapat mengisi kegiatan yang produktif.

Kegiatan berlanjut dengan pelatihan keamanan dan kesehatan produk makanan dari Dinas Kesehatan Kabupaten sebagai langkah awal Kostajasa mengajukan ijin produksi (PIRT/Pangan Industri Rumah Tangga).  Dengan didampingi oleh staff TFT di sela-sela kegiatan rutinnya pada saat verifikasi produksi oleh Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu (BPMPT) akhirnya Kostajasa lolos dan memperoleh ijin PIRT. (inyong)

 

Leave a Reply