Bertahan untuk Hutan lebih baik

Beyond Standard

Setelah di akhir tahun 2022 Manajemen dan Pengurus serta seluruh KTH dan anggota bergerak untuk mempertahankan Sertifikasi Hutan Rakyat FSC® alhamdulillah masih terjaga sertifikasinya. Menjadi sebuah catatan tersendiri karena tahun 2022 surveillance Kostajasa menggunakan standar baru FSC yakni Standar Pengelolaan Hutan FSC bagi Petani-hutan di Indonesia (FSC-STD-RAP-IDN-01-2022 Hutan Tanaman) pertama di Indonesia.

Standard baru yang diluncurkan di bulan Juni 2022 di Yogyakarta oleh FSC Indonesia menjadi acuan baru bagi petani hutan kecil/hutan rakyat cukup memudahkan dalam pelaksanaannya tapi tidak meninggalkan kualitas pengelolaan dan kegiatan. Bilamana dibandingkan dengan standard FSC SLIMF masih jauh lebih mudah pemenuhan standarnya. Meskipun demikian, Kostajasa tetap melaksanakan kegiatan di atas permintaan standard bagi Petani-hutan tersebut, hal ini untuk tetap menjaga kehati-hatian di tingkat manajemen hingga petani. Kostajasa menjalankan kegiatan pengelolaan hutan rakyat beyond standard.

Surveillance FSC FM Kostajasa tahun 2022 dilaksanakan di awal bulan Desember 2022, karena menggunakan standard baru FSC untuk Petani-hutan pelaksanaannya juga dilakukan observasi oleh pihak FSC Asia Pacific. Auditor dari SCS Global Services yang dikirimkan juga memenuhi klasifikasi sebagai auditor CoC. Hal ini sesuai komunikasi antara Kostajasa dan pihak SCS karena selain Surveillance FSC juga diminta melakukan audit untuk Kostajasa Sawmill Groups sebagai grup industri primer kecil.

Sebagai contoh, monitoring tahunan untuk mata air dengan pengukuran langsung pH dan TDS tetap dilakukan, demikian juga dengan pengukuran kekeruhan, kandungan besi, dan bakteri pembusuk tetap dilakukan Kostajasa. Hal ini selain dilihat dari aspek lingkungan juga dari aspek kepedulian Kostajasa terhadap kesehatan masyarakat dan hutannya. Mata air yang masih dipergunakan oleh masyarakat akan lebih terjaga kondisinya bila hutannya juga baik.

Scoping FSC FM

Pada surveillance FSC FM tahun 2022, Kostajasa melakukan revisi scoping untuk spesies yang masuk dalam skema Sertifikasi FSC. Spesies Jenitri (Elaeocarpus ganitrus) dimasukan untuk menggantikan spesies Laban (Vitex pinnata), hal karena selama ini belum ada industri yang membutuhkan kayu Laban dalam produksinya. Selain itu, petani lebih sering menanam Laban untuk dipergunakan sendiri sebagai bahan kusen pintu, jendela atau lainnya.

Scope spesies yang masuk dalam Sertifikasi FSC FM adalah Mahoni daun kecil (Swietenia mahagoni), Jati (Tectona grandis), Albasia (Albizia chinensis), Sengon (Paraserianthes falcataria), Sonokeling (Dalbergia latifolia), Sungkai/Jati Sabrang (Peronema canescens), Akasia (Acacia mangium, Acacia auriculiformis), Jenitri (Elaeocarpus ganitrus).

Dari keseluruhan jenis tersebut potensi dan kapasitas suply per bulan yakni

  • Mahoni (300 m3)
  • Albasia (300 m3)
  • Jati (200 m3)
  • Akasia (200 m3)

Alhamdulillah Kostajasa dapat mempertahankan Sertifikat FSC FM dari hasil audit tahun 2022, hal ini berkat kerjasama yang erat antara Manajemen, Pengurus Koperasi, Pengurus KTH dan seluruh anggota KTH yang sekarang berjumlah 22 KTH.

Sawntimber FSC

Impian atau obsesi manajemen dan pengurus Kostajasa untuk dapat meningkatkan tidak hanya menjual kayu dalam bentuk log tapi juga bisa berbentuk papan/sawntimber akhirnya bisa dilakukan tahun 2022. Namun tidak sebatas menjual papan saja, tapi juga bersertifikat FSC, oleh karena itu selain melakukan audit surveillance FSC FM, juga sekaligus dilakukan Main Audit FCS CoC. Terdapat 2 industri primer kecil yang bergabung dalam manajemen Kostajasa yakni UD. Amratani Kekayon Bhumi (Kebumen) dan UD. Mandiri Barokah (Banyumas).

Persiapan audit FSC CoC cukup menguras tenaga manajemen, terlebih sebelumnya ada juga audit CoC namun dengan skema PEFC/IFCC. Meskipun di awal hanya ada 2 industri primer tapi tidak mematahkan semangat dalam meraih Sertifikat FSC CoC. Pertengahan bulan Februari 2023 akhirnya Sertifikat FSC CoC untuk 2 anggota sawmill diterima melalui Kostajasa sebagai Group Manager.

Audit FSC CoC dilakukan di 2 industri primer kecil yang tergabung dalam Kostajasa Sawmill Groups juga pemeriksaan dokumen di kantor Kostajasa

PEFC CoC

Langkah lanjut dari kunjungan Komiter Standard dari IFCC dan pelatihan bagi pengelola hutan baik manajemen, pengurus dan perwakilan KTH di bulan Desember 2021, juga pelatihan pemilik industri primer dampingan Kostajasa adalah maju menuju Sertifikasi PEFC CoC. Ada 4 (empat) industri primer kecil yang ikut menyiapkan diri maju Sertifikasi PEFC yakni: UD. Amratani Kekayon Bhumi dari Kab. Kebumen, UD. Mandiri Barokah, UD. Maju Bersama dan UD. Arta Mulya yang ketiganya berada di Kec. Tambak Kab. Banyumas yang berhimpitan dengan Kab. Kebumen di sebelah barat.

Sebagai Pilot Project Sertifikasi PEFC baik FM maupun CoC, Kostajasa dengan sepenuh hati menyiapkan segala keperluan untuk pemenuhan standard PEFC. PT. Intishar Sadira Eshan – Cirebon yang diplilih untuk melakukan audit di Kostajasa sebagai witness juga. Namun baru bulan November 2022 dilakukan audit pada Kostajasa Sawmill Group oleh PT. ISE. Main audit PEFC FM belum bisa dilaksanakan tahun 2022, rencana akan dilakukan pada tahun 2023.

Meskipun Kostajasa menjadi Witness dalam Audit PEFC CoC dari LS PT. ISE, namun dalam pelaksanaan audit cukup tajam auditor melihat pemenuhan standar ke- 4 sawmill. Hadir pula sebagai observer dari Sekretariat IFCC dan juga auditor dari KAN (Komite Akreditasi Nasional)

Bulan Februari bertepatan dengan pelaksanaan Rapat Anggota Tahunan (RAT) Kostajasa Tahun Buku 2022, langsung diserahkan sertifikat PEFC CoC oleh Executif Director Bpk. Zulfandi Lubis. Kendala utama belum bisa berproduksi adalah belum adanya sumber kayu PEFC, hal ini karena Kostajasa belum dilakukan audit PEFC FM yang semula direncanakan akan dilakukan paralel dengan CoC, tapi akhirnya mundur di tahun 2023.

Penyerahan Sertifikat PEFC CoC oleh Bpk Zulfandi Lubis (Executive Director IFCC) kepada 4 industri primer kecil pada acara Rapat Anggota Tahunan Kostajasa Tahun Buku 2022

Leave a Reply

Discover more from Kostajasa Community Forest

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading