Sudut Pandang Berbagi Kasih: Supriyono

Pada beberapa artikel kedepan, Kostajasa akan mengunggah tulisan buah karya para tim manajemen pada saat membagikan santunan untuk kaum dhuafa. Kami percaya bahwa dampak kepada masyarakat tidak hanya berpaku pada prinsip, kriteria dan indikator dalam standar sertifikasi, melainkan kami ingin melebihi atau beyond certification. Oleh karena itu, meskipun pembagian santunan ini tidak ada permintaan dalam standar sertifikasi hutan, kami tetap melakukan kegiatan ini sesuai dengan semangat Kostajasa untuk menyeimbangkan aspek lingkungan, ekonomi, dan sosial.

Membuat Mereka Tersenyum

Penulis: Supriyono (Staff Bidang Lingkungan & Sosial)

Tolong-menolong adalah salah satu bentuk interaksi sosial dalam kehidupan bermasyarakat. Ada nilai-nilai luhur yang harus dijaga dalam praktik ini, baik dari segi agama maupun kemanusiaan. KOSTAJASA, sebagai sebuah organisasi, memiliki peran aktif dalam menjaga nilai-nilai tersebut.

Pada bulan yang penuh berkah ini, di Ramadhan 1446 H / 2025, KOSTAJASA kembali mengadakan kegiatan sosial berupa santunan dan donasi bagi kaum dhuafa serta anak yatim. Seperti tahun-tahun sebelumnya, kegiatan ini dilakukan di desa-desa yang memiliki Kelompok Tani Hutan (KTH) anggota KOSTAJASA.

Karena KOSTAJASA memiliki 22 KTH yang tersebar di 20 desa, kegiatan santunan tahun ini juga dilaksanakan di 20 desa, yang juga mencakup 8 kecamatan. Sebelum kegiatan berlangsung, dilakukan pembahasan teknis terkait siapa yang akan menerima santunan, wilayah distribusinya, kriteria penerima, serta pembagian tim dan jadwal pelaksanaan.

Dalam kegiatan ini, saya berpartisipasi dalam desa dan KTH berikut:

  • Logandu – KTH Lestari Jaya
  • Kalibening – KTH Rimba Lestari
  • Karanggayam – KTH Tirto Wahono
  • Giripurno – KTH Subur Mulya
  • Peniron – KTH Sumber Rejeki
  • Pohkumbang – KTH Margo Makmur

Jumlah penerima santunan di masing-masing desa/KTH adalah 10 orang.

Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari, dari tanggal 10 hingga 12 Maret 2025. Banyak pengalaman berkesan yang saya alami selama kegiatan ini, mulai dari medan yang sulit dijangkau dan hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki, hingga hujan yang terus-menerus turun sehingga jalanan menjadi licin. Namun, Alhamdulillah, semua berjalan sesuai rencana. Satu hal yang paling membekas bagi saya adalah melihat senyuman tulus dari para penerima santunan. Jika dilihat secara ekonomi, mereka mungkin kurang beruntung, tetapi rasa terima kasih mereka sungguh luar biasa. Ya, membuat mereka tersenyum adalah hal yang sangat berarti, dan KOSTAJASA telah membantu mewujudkannya.

Hari Pertama: 10 Maret 2025

Saya memulai kegiatan santunan di KTH Lestari Jaya, Desa Logandu, ditemani oleh Lantip dari manajemen. Desa Logandu terletak di Kecamatan Karanggayam dan merupakan wilayah perbukitan. Sebelum turun ke lapangan, kami berkoordinasi dengan pengurus KTH Lestari Jaya untuk memastikan data penerima santunan sudah sesuai dengan kriteria yang ditetapkan manajemen, yakni mereka yang benar-benar membutuhkan secara ekonomi dan tidak memiliki penghasilan tetap.

Berikut adalah daftar penerima santunan di Desa Logandu:

  • Gareng (Dukuh Gunung Bujil)
  • Afip (Dukuh Menjangan)
  • Jamikarsa (Karang Pucung)
  • Nini Jemil (Karang Pucung)
  • Sadi (Gigil)
  • Sukarti (Jambe Kerep)
  • Suti (Jambe Kerep)
  • Karlan (Jambe Kerep)
  • Hartinah (Jambe Kerep)
  • Nini Tebok/Satiyem (Pesawahan)

Masing-masing penerima memiliki kondisi yang berbeda, ada yang memiliki cacat fisik, lanjut usia, atau anak yatim. Namun, semuanya adalah orang-orang yang sangat membutuhkan bantuan. Sesuai jadwal, kegiatan di Desa Logandu harus selesai sebelum pukul 13.00 WIB agar kami bisa melanjutkan perjalanan ke KTH berikutnya. Alhamdulillah, kegiatan berjalan lancar, dan penerima santunan terlihat sangat bahagia. Senyum mereka adalah bukti nyata bahwa bantuan ini benar-benar berarti bagi mereka.

Selanjutnya, kami menuju KTH Rimba Lestari di Desa Kalibening. Dalam perjalanan, hujan turun cukup deras sehingga kami harus menepi sejenak untuk mengenakan mantel yang sudah disiapkan. Sesampainya di Kalibening, kami langsung menuju sekretariat KTH untuk berkoordinasi sebelum ke lapangan.

Berikut daftar penerima santunan di Desa Kalibening:

  • Rafa Saputra (Dukuh Karang Jati)
  • Saliyem (Dukuh Wates)
  • Kapinah (Dukuh Wates)
  • Sainah (Kedung Kidang)
  • Satiyem/Nini Gebog (Kaligua)
  • Kartini (Kaligending)
  • Naisah (Kaligending)
  • Saniah (Kaligending)
  • Wismadiwirya (Kalipacet)
  • Rasiah (Kalipacet)

Salah satu tantangan di Kalibening adalah akses ke rumah beberapa penerima yang sulit dijangkau kendaraan. Misalnya, rumah Ibu Kartini di Kaligending hanya bisa dicapai dengan berjalan kaki karena jalannya sempit, licin, dan menurun. Meskipun cukup melelahkan, semua perjuangan ini terbayar dengan senyum dan ucapan terima kasih yang mereka sampaikan.

Hari Kedua: 11 Maret 2025

Pada hari kedua, Saya bertugas seorang diri untuk menyalurkan santunan di KTH Tirto Wahono (Dukuh Kradenan, Desa Karanggayam) dan KTH Subur Mulya (Giripurno). Karena KTH Tirto Wahono memiliki sub-KTH di Desa Kajoran, Saya terlebih dahulu berkoordinasi dengan Kepala Desa Kajoran. Selain membicarakan agenda santunan, saya juga memperkenalkan KOSTAJASA dan program-programnya. Pak Kades sangat antusias dan bahkan tertarik untuk membentuk KTH sendiri di desanya.

Berikut adalah penerima santunan di Desa Kajoran:

  • Darwanti (RT 02 RW 01 Kemojing Kajoran)
  • Sarwan (RT 05 RW 05 Jatiwera Kajoran)
  • Dwi (RT 01 RW 06 Kewao Kajoran)
  • Samidem (RT 05 RW 02 Sudag)

Hari Ketiga: 12 Maret 2025

Setelah selesai di Kajoran, saya melanjutkan kegiatan di KTH Tirto Wahono dan KTH Subur Mulya. Meskipun medan yang harus dilalui cukup berat, saya tetap semangat karena ini adalah amanah yang harus dijalankan. Seperti di desa-desa sebelumnya, penerima santunan menyambut kami dengan senyum dan doa yang tulus.

Selama tiga hari saya bertugas dalam membagikan santunan, banyak suka dan duka yang saya alami dalam kegiatan santunan ini. Medan sulit seperti jalan menukik dan rusak, hujan yang terus turun, dan kelelahan fisik bukanlah sebuah halangan. Setiap senyum dan kebahagiaan penerima santunan menjadi penyemangat bagi kami. Kegiatan ini bukan hanya tentang memberikan bantuan materi, tetapi juga tentang berbagi kebahagiaan dan harapan.

Saya bersyukur bisa menjadi bagian dari kegiatan ini dan melihat langsung bagaimana KOSTAJASA benar-benar membawa manfaat bagi masyarakat. Semoga kegiatan ini bisa terus berjalan dan memberikan kebahagiaan bagi lebih banyak orang di masa mendatang.

Membuat mereka tersenyum adalah hal kecil yang memiliki dampak besar. Terima kasih KOSTAJASA telah membantu mewujudkannya.

Leave a Reply

Discover more from Kostajasa Community Forest

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading