Sudut Pandang Berbagi Kasih: Muhimin

Berkah dan Kebahagiaan

Penulis : Muhimin Aji Susanto

Bulan Ramadan merupakan bulan yang penuh berkah dan barokah. Selain untuk memperkuat iman dan taqwa, bulan ini juga menjadi momen bagi Kostajasa untuk meningkatkan kepedulian terhadap sesama. Dalam bulan Ramadan ini, Kostajasa mengadakan kegiatan “Kostajasa Berbagi”, yang berupa santunan untuk kaum dhuafa yang berada di areal kerja Kostajasa.

Salah satu momen yang sangat berkesan dalam kegiatan ini terjadi di Dukuh Karang Kamal, Desa Sikayu. Kami bertemu dengan seorang anak yatim piatu bernama Dendy, yang mengalami cacat kaki. Meskipun memiliki keterbatasan fisik, Dendy memiliki tekad yang kuat untuk belajar. Saat ini, ia duduk di kelas 1 SD dan tidak merasa minder atau malu dengan teman-temannya di lingkungan sekolah. Wajahnya penuh semangat saat menerima santunan dari kami, dan hal itu menjadi pengingat betapa pentingnya berbagi kebahagiaan di bulan yang suci ini.

Kegiatan santunan ini dilaksanakan pada tanggal 10 – 12 Maret 2025. Kostajasa membentuk 4 tim dalam distribusi santunan di 22 KTH. Setiap tim didampingi oleh pengurus KTH setempat dalam proses pendistribusian santunan sebagai guide. Saya tergabung dalam tim ke-4 dan mendapat tugas di 5 KTH berikut:

  • KTH Wono Dadi di Desa Sidoagung, Kecamatan Sruweng.
  • KTH Wana Makmur di Desa Candi, Kecamatan Karanganyar.
  • KTH Rimba Asri di Desa Tegalsari, Kecamatan Adimulyo.
  • KTH Wana Mukti yang membawahi 3 desa, yaitu Desa Sidomukti, Desa Arjosari, dan Desa Arjomulyo.
  • KTH Karya Sari di Desa Sikayu, Kecamatan Buayan, yang membawahi 2 desa, yaitu Desa Sikayu dan Desa Karangsari.

Pada hari pertama, saya membagikan santunan di KTH Wono Dadi, Desa Sidoagung, didampingi oleh Bapak Gatot sebagai perwakilan dari KTH. Di Desa Sidoagung, masih banyak dijumpai kaum dhuafa yang benar-benar sangat membutuhkan bantuan. Di sana, saya bertemu dengan seorang ibu bernama Sa’diyah, yang tinggal sebatang kara dalam rumah kecil berukuran sekitar 6×3 meter, berdinding bilik bambu dan kayu dengan pintu dari seng. Di dalam rumahnya hanya terdapat satu dipan tua beralaskan karpet lusuh sebagai tempat tidur dan istirahat sehari-hari. Dengan sekat sebuah lemari, di baliknya terdapat satu keranjang bambu untuk kandang ternak ayamnya. Ketika kami datang dan berbincang dengannya, terlihat raut wajah bahagia dan ucapan syukur yang tak henti-hentinya setelah menerima santunan dari kami.

Setelah selesai di KTH Wono Dadi, kami melanjutkan perjalanan ke KTH Wana Makmur di Desa Candi, Kecamatan Karanganyar. Di sana, kami didampingi oleh Ketua KTH setempat, yaitu Bapak Kasino. Kondisi di Desa Candi juga serupa, banyak kaum dhuafa yang sangat membutuhkan bantuan.

Pada hari kedua, kami bertugas membagikan santunan di KTH Rimba Asri, Desa Tegalsari. KTH Rimba Asri merupakan salah satu KTH binaan Kostajasa yang berada di dataran rendah dan sering terdampak banjir saat curah hujan tinggi. Kami didampingi oleh perwakilan KTH yang juga merupakan kepala wilayah, yaitu Bapak Zaenal Arifin. Di sana, kami bertemu dengan Mba Nur Hasanah, yang mengalami cacat fisik sejak kecil. Ia sudah berusaha berobat secara medis dan non-medis, tetapi belum menunjukkan hasil hingga sekarang, di usianya yang sekitar 30 tahun. Selain itu, kami juga bertemu dengan Pak Wasisno, yang mengidap Down Syndrome. Kondisinya menyebabkan keterbelakangan fisik dan kecerdasan rendah, serta kesulitan dalam bersosialisasi dengan masyarakat pada umumnya.

Setelah selesai di KTH Rimba Asri, kami melanjutkan ke KTH Wana Mukti. KTH ini menarik karena membawahi 3 desa sekaligus. Di Desa Arjosari, kami berkomunikasi dengan Ibu Lili Sukarni, yang juga menjabat sebagai bendahara di Kostajasa. Kehadiran Ibu Lili sangat membantu karena beliau bersedia ikut mendampingi kami hingga selesai di 3 desa, sehingga semuanya berjalan lancar. Di Desa Arjomulyo, kami berbincang lama dengan anggota KTH, Bapak Idris dan Bapak Jasman. Mereka memiliki keinginan untuk mengaktifkan kembali KTH Rindang Jaya agar tidak tergabung lagi dengan KTH Wana Mukti. Kami sangat mendukung dan mendorong tujuan mereka, tentu dengan memenuhi persyaratan dari Kostajasa agar KTH Rindang Jaya dapat aktif kembali.

Pada hari ketiga, kami mendapatkan tugas membagikan santunan di KTH Karya Sari. KTH ini istimewa karena merupakan satu-satunya KTH binaan Kostajasa yang berada di kawasan karst. Saya ditemani oleh Lantip, staff Marketing yang bertugas juga dalam dokumentasi dan fotografi. Kami juga didampingi oleh perwakilan KTH, yaitu Pak Adman, yang sangat mengenal area Desa Sikayu. Dengan bantuannya, kami dapat menyelesaikan pendistribusian santunan dengan cepat dan tepat sasaran.

Setelah selesai di Desa Sikayu, kami melanjutkan ke Desa Karangsari. Di sana, kami berkomunikasi dengan anggota lama, yaitu Pak Rosadi. Beliau merupakan anggota KTH Sri Rukun sebelum digabung ke KTH Karya Sari. Sebagai perangkat desa di Karangsari, beliau sangat memahami lokasi kaum dhuafa yang patut menerima santunan. Setelah selesai dengan pembagian santunan, kami berbincang panjang tentang keanggotaan koperasi Kostajasa. Akhirnya, Pak Rosadi memutuskan untuk bergabung sebagai anggota koperasi Kostajasa. Kami berharap, dengan bergabungnya Pak Rosadi, semakin banyak yang tertarik untuk ikut serta, sehingga kedepannya KTH Sri Rukun dapat diaktifkan kembali.

Kegiatan “Kostajasa Berbagi” ini memberikan dampak positif bagi semua pihak. Banyak masyarakat sekitar dan anggota KTH yang merasa sangat terbantu dan bersyukur atas kepedulian Kostajasa. Mereka pun mendoakan agar Kostajasa selalu jaya dan semakin sukses, sehingga kegiatan ini dapat terus berlanjut di masa mendatang. Terima kasih kepada semua anggota KTH dan masyarakat yang telah mendukung dan berpartisipasi dalam kegiatan ini dari awal hingga akhir, sehingga semuanya berjalan dengan lancar.

Leave a Reply

Discover more from Kostajasa Community Forest

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading