Perayaan Suran yang jatuh setiap tahun menjadi momen yang sangat berarti bagi masyarakat Kelompok Tani Hutan (KTH), terutama bagi anggota KOSTAJASA. Di luar fungsinya sebagai ritual pergantian tahun dalam kalender Jawa, perayaan ini menjadi sarana bagi KOSTAJASA untuk menyatukan dua hal penting: menjaga tradisi budaya Jawa sekaligus mempererat hubungan antaranggota dalam gathering yang dilaksanakan pada pertemuan Triwulan. Dalam suasana yang penuh keakraban, anggota KTH tidak hanya merayakan Suran, tetapi juga melakukan evaluasi dan update terkait kemajuan kegiatan mereka dalam pengelolaan hutan.

Sebagai bagian dari perayaan, tumpengan dan ingkung menjadi simbol utama dalam acara tersebut. Tumpengan, nasi yang dibentuk kerucut, melambangkan rasa syukur atas segala nikmat yang telah diberikan selama setahun dan harapan untuk keselamatan di tahun yang akan datang. Dikelilingi oleh lauk-pauk yang beragam, tumpengan menggambarkan keharmonisan dan keberagaman dalam kebersamaan. Begitu pula dengan ingkung, ayam utuh yang dimasak dengan bumbu kuning, sebagai doa dan harapan untuk keselamatan serta kesejahteraan bagi seluruh anggota. Momen ini bukan hanya soal tradisi, tetapi juga tentang menjaga rasa kebersamaan yang menjadi inti dari kerja kolektif KTH.

Namun, perayaan bulan Sura bagi anggota KOSTAJASA lebih dari sekadar tradisi kuliner dan hiburan. Dalam gathering ini, manajemen KOSTAJASA memanfaatkan waktu untuk menyampaikan update mengenai RKT (Rencana Kerja Tahunan) dan capaian yang telah diraih selama triwulan sebelumnya. Ini menjadi kesempatan bagi manajemen untuk memastikan semua anggota tetap mendapat informasi mengenai progress yang telah dicapai, serta merencanakan langkah-langkah selanjutnya. Dengan cara ini, pertemuan triwulan tidak hanya sekedar agenda rutin, tetapi juga menjadi ajang untuk menguatkan ikatan dan menyelaraskan visi antara manajemen dan anggota.

Lebih dari sekadar sebuah perayaan tahun baru, Suran di sini adalah cara KOSTAJASA untuk memadukan pelestarian budaya Jawa dengan kegiatan yang bersifat profesional. Penentuan hari pelaksanaan acara Suran mengacu pada Hari Pasaran (Kalender Jawa) lahirnya KOSTAJASA yang jatuh pada hari Rabu Pon di bulan Suro setiap tahunnya. Hari Pasaran adalah siklus lima hari yang disebut Pancawara atau Pasaran yang urutannya yaitu Legi/Manis, Pahing, Pon, Wage dan Kliwon. Melalui upacara yang mengangkat tumpengan dan ingkung, serta diselingi dengan alunan musik tradisional, anggota KTH diberi kesempatan untuk merasakan kedekatan dan kekompakan satu sama lain. Mereka bisa menikmati hiburan tradisional dengan menari bersama sambil berbincang dengan santai, dengan tetap menjaga ritme dan semangat kerja yang produktif dalam organisasi.

Dengan demikian, perayaan Suran bagi anggota KOSTAJASA bukan hanya tentang merayakan tradisi, tetapi juga tentang menyatukan dua dunia yang berbeda: menjaga identitas budaya Jawa yang kaya dan memperkuat ikatan dalam sebuah komunitas yang bekerja untuk tujuan bersama. Melalui perayaan yang dikemas dalam gathering ini, KOSTAJASA berhasil memperlihatkan bahwa menjaga budaya dan merayakan pencapaian kolektif dapat berjalan beriringan, membawa manfaat untuk keberlanjutan lingkungan, serta keberlangsungan hubungan sosial yang harmonis.

Leave a Reply