Penulis : Supriyono (Staff Lingkungan & Sosial)
Langit mendung menaungi pagi ketika saya menaiki sepeda motor menuju Desa Logandu. Di belakang motor saya terikat erat satu kardus besar berisi paket santunan. Bukan kali pertama saya bertugas membagikan bantuan sosial atas nama KOSTAJASA, namun setiap perjalanan selalu menghadirkan wajah dan cerita baru yang tinggal di benak saya lebih lama dari sekadar waktu tempuh.

Saya Supriyono, staf bidang Lingkungan dan Sosial di KOSTAJASA. Bagi kami, koperasi bukan hanya urusan kayu jati atau sertifikat hijau. Kami percaya, hutan yang dikelola dengan lestari tak akan pernah bisa dilepaskan dari manusia yang tinggal di sekitarnya. Dan karena itu pula, setiap bulan Suro dalam penanggalan Jawa, kami mengadakan kegiatan santunan anak yatim dan piatu di desa-desa mitra kami.
Dari WhatsApp ke Jalan Setapak

Koordinasi dimulai berminggu-minggu sebelumnya. Kami menyampaikan rencana melalui grup WhatsApp “KTH KOSTAJASA” kepada para pengurus kelompok. Mereka kami minta mendata sepuluh anak yang memenuhi tiga kriteria utama: yatim atau piatu, berasal dari keluarga kurang mampu, dan masih berusia sekolah. Nama-nama itulah yang kemudian kami bawa dalam daftar, bersanding dengan rute-rute ke desa yang medan jalannya tak pernah bisa diprediksi.
Saya mendapat bagian membagikan santunan di lima desa: Logandu, Kalibening, Karanggayam, Pohkumbang, dan Peniron. Semuanya desa kecil, terpencil, dan sebagian besar dikelilingi hutan rakyat.
Araseli dan Rumah di Ujung Tebing
Di Kalibening, kami mendaki jalan berbatu, sebagian tergerus air hujan semalam. Rumah Araseli berdiri di ujung tebing. Dindingnya dari papan kayu lapuk, atapnya seng yang berkarat. Ibunya menyambut kami dengan senyum lelah tapi tulus. Araseli sendiri tampak ragu untuk mendekat. Ia menunduk, memeluk lututnya, seperti menahan sesuatu yang sulit dijelaskan.
Kami sempat berbincang. Tentang sekolah yang terhenti, tentang keinginannya menjadi guru, dan tentang ayah yang telah tiada. Ketika saya menyerahkan bingkisan, ia menatap saya sebentar—lalu tersenyum. Kecil, pelan, tapi cukup untuk menghapus rasa lelah perjalanan hari itu.
Mahasiswa, Tanjakan, dan Tanda Tanya
Hari berikutnya, saya ditemani Galuh, mahasiswa magang dari Fakultas Kehutanan UGM. Sepanjang perjalanan ia tampak penasaran, lalu bertanya, “Kenapa koperasi hutan mengurus santunan seperti ini? Apa hubungannya dengan pohon jati?”
Saya jawab perlahan, “Karena hutan bukan hanya soal pohon, tapi juga soal orang-orang yang hidup di sekitarnya. Kalau mereka tidak sejahtera, bagaimana bisa menjaga hutan?”
Kami sempat kesasar di Wanareja. Tak ada pengurus yang mendampingi, hanya petunjuk samar dari warga. Tapi kami terus maju. Di setiap rumah, kami menemukan cerita berbeda—anak-anak yang ditinggal orang tua, yang tinggal bersama neneknya, atau yang berusaha tetap bersekolah meski tanpa seragam lengkap.
Peniron dan Percakapan yang Diam
Hari terakhir saya ditemani Naufal, teman Galuh dari UGM. Ia lebih pendiam. Di sepanjang perjalanan ke Peniron, ia banyak mengamati. Baru saat kami duduk di warung kecil selepas penyerahan santunan, ia berujar, “Pak, saya kira kerja kehutanan itu cuma soal pohon dan laporan. Tapi ternyata, ini juga ya.”
Saya tersenyum. “Kalau kita hanya jaga pohon tanpa jaga manusianya, besok yang menebang itu ya mereka juga.”
Di Antara Hutan dan Harapan

Tiga hari, lima desa, puluhan rumah, dan lebih banyak lagi wajah yang menyapa kami dengan ragu lalu berbalik menjadi hangat. Saya tidak tahu apakah bantuan kecil itu cukup mengubah hidup mereka. Tapi saya percaya bahwa hadir, menyapa, dan mendengarkan, adalah bagian penting dari kerja pelestarian itu sendiri.
Kami tak hanya membagikan santunan. Kami belajar berjalan di jalan yang sama dengan mereka yang jarang terlihat. Kami menyadari bahwa hutan rakyat bukanlah kawasan tak bernyawa. Ia hidup dalam cerita Araseli, dalam langkah-langkah ragu anak-anak yang menerima kami, dan dalam pertanyaan-pertanyaan yang pelan-pelan menemukan jawabnya.
“Melalui kegiatan ini, saya belajar bersyukur, belajar mendengar, dan yang paling penting—belajar menjadi manusia yang hadir untuk manusia lain.”
Semoga KOSTAJASA terus menjaga tidak hanya hutan, tetapi juga harapan yang tumbuh di sekitarnya.

Leave a Reply