Penulis: Ripan (Staff Produksi & CoC)
Pada bulan Suro 2025—yang bertepatan dengan Muharram dalam penanggalan Hijriah—Koperasi Taman Wijaya Rasa (KOSTAJASA) kembali melangsungkan kegiatan santunan bagi anak-anak yatim. Tradisi ini bukan hal baru, tapi setiap tahun ia hadir dengan wajah yang berbeda: lebih dekat, lebih menyentuh, dan lebih membumi.
Tahun ini, santunan dilaksanakan langsung di masing-masing wilayah kerja KOSTAJASA, tersebar di 22 Kelompok Tani Hutan (KTH) yang membentang di 20 desa, 8 kecamatan, dan dua kabupaten: Kebumen dan Banyumas. Masing-masing perwakilan pengurus KTH mendampingi 10 anak penerima santunan.
Saya sendiri diberi amanah untuk mendampingi kegiatan di enam KTH: Tugu Makmur di Desa Tugu, KTH Ngudi Waluyo di Desa Pringtutul, KTH Tunas Sari di Desa Jogomulyo, KTH Karya Dadi di Desa Bumiagung, serta KTH Giri Mulyo dan Mulyo Sari di Desa Wonoharjo.
Selama tiga hari, 14–16 Juli 2025, kami mengunjungi rumah demi rumah penerima santunan. Bukan sekadar menyerahkan bingkisan, tapi menyimak kisah, menyapa, dan menyambung silaturahmi di tengah sejuknya hutan rakyat yang selama ini menjadi nadi kehidupan warga.
Hari Pertama: Desa Tugu dan Pringtutul
Di KTH Tugu Makmur, Desa Tugu, Kecamatan Buayan, kami disambut oleh Mbah Timah, nenek dari tiga cucu yang kini ia besarkan sendiri: Elmer Yudistira (kelas 5 SD), Rafi Ramadan (kelas 1 SD), dan Dinda Auliya Lufianti, siswi SMK. Mereka kehilangan ayah sejak 2017, dan ibu mereka wafat pada Maret 2025. Kini, kebutuhan sehari-hari mereka bergantung pada kiriman dari keluarga di Cirebon. Dinda, anak sulung, bahkan sudah mulai ikut membantu servis elektronik sepulang sekolah—meski saat kami datang, sekolah sedang libur dua minggu karena ujian akhir.

Masih di Desa Tugu, kami mengunjungi Lana Dafilah, yang tinggal bersama dua adiknya: Erika Fatina (kelas 6 SD) dan Ataya Nariski (kelas 2 SD). Ayah mereka telah meninggal dunia, dan ibunya kini bekerja di Jakarta. Lana yang seharusnya masuk SMP, harus berhenti sekolah karena keterbatasan biaya. Kini, mereka tinggal bersama Bu Rasinah, kakak dari sang ibu, yang mengurus makan sehari-hari. Sangat disayangkan, Wajib Belajar 15 tahun atau setara SLTP tidak bisa diselesaikan oleh Lana. Kami belum memperoleh informasi apakah tidak ada bantuan khususnya untuk menyelesaikan pendidikan Lana dari pemerintah, baik pemerintah desa, kecamatan, atau mungkin dari Dinas Sosial Kabupaten Kebumen. Semoga dengan cerita ini bisa menggerakkan para pemangku kebijakan untuk dapat membantu pendidikan Lana. Bahkan sangat mungkin ada Lana-Lana lain di desa-desa yang terdapat KTH dampingan KOSTAJASA.

Jogomulyo dan Bumiagung
Kunjungan berlanjut ke Desa Jogomulyo dan Bumiagung. Di KTH Karyadadi, Desa Bumiagung, kami bertemu keluarga Stevan Saputra, anak dari keluarga besar dengan enam bersaudara. Meski bukan yatim, kondisi ekonomi keluarganya memprihatinkan. Orangtuanya tidak memiliki penghasilan tetap. Atas masukan dari pengurus KTH, bantuan juga disalurkan pada keluarga ini—karena kemanusiaan tidak pernah hitung-hitungan status.

Desa Wonoharjo
Di hari terakhir, kami menyambangi dua KTH di Desa Wonoharjo yakni KTH Girimulyo dan KTH Mulyosari. Di Dukuh Lokarsa, salah satu dari 10 penerima santunan, kami bertemu Bu Parlilah, ibu dari Alvin Geovani dan Alvi Ardian. Anak-anak ini kehilangan ayah mereka dalam sebuah kecelakaan tragis—terjatuh saat memanjat pohon kelapa. Meski duka itu sudah lama lewat, bekasnya masih terasa, terutama bagi anak-anak yang kini tumbuh dengan kenangan yang belum utuh.
Merawat Hutan, Merawat Sesama
Santunan bukan hanya soal memberi, tapi tentang hadir dan melihat. Bahwa di balik tegaknya jati dan akasia, ada anak-anak yang tumbuh dengan tabah. Bahwa di tengah hutan rakyat, semangat saling menjaga dan berbagi terus hidup. Kegiatan ini mungkin sederhana, tapi harapannya panjang: semoga membawa keberkahan, mempererat solidaritas, dan menguatkan KOSTAJASA sebagai ruang yang tak hanya menanam pohon—tapi juga harapan.
Terima kasih.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.




Leave a Reply