Penulis : Muhammad Galuh Ramadhan-Mahasiswa Magang dari UGM
Bulan Suro dikenal sebagai waktu yang sarat makna dalam tradisi dan budaya masyarakat. Di momen yang penuh nilai spiritual ini, saya berkesempatan mewakili KOSTAJASA dalam kegiatan santunan bagi anak-anak yatim dan piatu di berbagai wilayah kelompok tani hutan (KTH) dampingan. Kegiatan ini berlangsung pada tanggal 14 hingga 16 Juli 2025, mencakup 22 titik KTH yang tersebar di dua kabupaten. Saya percaya, sekecil apapun uluran tangan yang diberikan dengan tulus, bisa menjadi sumber kekuatan dan harapan bagi mereka yang menjalani hidup dalam keterbatasan.

Bagi saya, kegiatan ini tidak semata-mata soal bantuan materi, tetapi juga soal hadirnya dukungan emosional. Saya ingin anak-anak tahu bahwa masih banyak orang yang peduli—yang ingin melihat mereka tumbuh dengan baik, tersenyum, dan tetap berani bermimpi meski hidup tidak selalu mudah. Tatapan mata, senyum yang tersipu malu, hingga tawa manis dari mereka menjadi bukti bahwa kehadiran langsung begitu berarti. Mereka tak hanya menerima bantuan, tetapi juga perhatian dan kasih sayang.
Berbagai kisah menyentuh hati saya temui selama tiga hari perjalanan. Di hari pertama, di Desa Tugu, saya bertemu kakak beradik yang telah kehilangan ayah sejak balita dan ditinggal ibu mereka yang merantau ke Jakarta. Salah satu dari mereka bahkan mengalah untuk tidak melanjutkan pendidikan demi membantu kehidupan keluarga. Namun hal itu tidak memadamkan semangat mereka untuk tetap tumbuh dan berkembang.
Hari kedua di Desa Pohkumbang, saya menjumpai seorang nenek yang menjadi pengrajin daun pandan demi mencukupi kebutuhan cucunya yang sudah yatim piatu. Dengan penghasilan yang tak menentu, ia tetap semangat memastikan cucunya bisa terus bersekolah.

Lalu di hari ketiga, di Desa Sikayu, saya bertemu seorang remaja yang tekun menempuh pendidikan di bidang otomotif. Ia punya semangat besar untuk meningkatkan keterampilan dan berharap bisa membantu ibunya yang berdagang di pasar.
Walau sebagian dari mereka tumbuh tanpa kasih sayang orang tua yang utuh, mereka tetap berjuang untuk meraih pendidikan dan menjemput mimpi. Dalam keterbatasan, saya melihat keteguhan hati yang luar biasa—yang seharusnya mendapat dukungan lebih luas. Bagi saya, ini adalah pengingat bahwa uluran tangan dari siapapun, terutama dari pemerintah, masih sangat dibutuhkan. Jangan sampai semangat mereka pupus hanya karena keterbatasan akses dan biaya.
Saya berharap kegiatan seperti ini bisa terus menjadi jembatan harapan. Karena di balik setiap senyum yang kita temui, ada masa depan yang sedang tumbuh. Dan bagi KOSTAJASA, kegiatan sosial seperti ini bukan sekadar pelengkap, tetapi bagian penting dari perjalanan kami bersama masyarakat.

Leave a Reply