Penulis : Muhimin Aji Susanto-Staff Produksi & CoC
Bulan Muharram atau bulan Asyura merupakan momen istimewa bagi umat Islam sekaligus masyarakat Jawa. Di bulan ini, nilai-nilai sosial dan budaya hadir melalui berbagai kegiatan, salah satunya adalah tradisi berbagi kepada sesama. Dalam semangat itulah, KOSTAJASA kembali mengadakan kegiatan sosial berupa santunan bagi anak-anak yatim di wilayah kerja kami, yang saat ini mencakup 22 Kelompok Tani Hutan (KTH) di 20 desa, 8 kecamatan, dan 2 kabupaten.

Untuk kegiatan ini, KOSTAJASA membentuk empat tim, termasuk dua mahasiswa Universitas Gadjah Mada yang tengah menjalani program magang dan ikut serta membantu hingga akhir kegiatan. Seperti pada santunan di bulan Ramadhan lalu, setiap KTH mendapat kuota 10 anak penerima santunan, dan selalu diupayakan agar pemerataan menjadi prioritas utama.
Hari Pertama – Desa Candi dan Giripurno

Pagi hari, saya mengunjungi KTH Wana Makmur di Desa Candi. Di sana, saya ditemani oleh Bapak Kasino selaku ketua KTH setempat dan Mas Naufal, mahasiswa Fak. Kehutanan UGM yang tengah magang di KOSTAJASA. Terdapat 10 anak penerima santunan dari berbagai dusun di desa ini. Salah satu yang paling membekas bagi saya adalah Kiara, anak ketiga dari empat bersaudara. Ibunya kini menjadi tulang punggung keluarga setelah tidak ada lagi ayah yang menafkahi keluarga. Beliau harus membesarkan keempat anak seorang diri, menjadi ibu sekaligus ayah dalam kehidupan mereka. Saat kami datang dan menyampaikan maksud kedatangan, senyum bahagia dan penuh syukur terpancar dari wajahnya. Bagi saya, beliau adalah Wonder Woman sejati bagi keluarganya.
Siang harinya, saya melanjutkan perjalanan ke KTH Subur Mulyo di Desa Giripurno. Kami mulai dengan mengunjungi sekretariat KTH yang berada di rumah Pak Kades. Setelah berbincang dan memverifikasi data, karena kesibukannya, Pak Kades menugaskan Mbah Sanmohadi untuk mendampingi proses pembagian. Di Giripurno, santunan kali ini lebih merata. Namun, ada satu kejadian yang membuat saya terdiam: ketika tiba di rumah Mas Agus, pintu mendadak ditutup. Setelah dibukakan oleh Mbah Sanmohadi, kami mendapati Mas Agus bersembunyi di bawah kolong tempat tidur. Ia enggan keluar, dan karena sang ayah tidak di rumah, kami memutuskan untuk melanjutkan kunjungan ke rumah lain lebih dulu. Dalam perjalanan, saya terus bertanya-tanya tentang Mas Agus, hingga akhirnya mendapat penjelasan bahwa ia mengalami gangguan mental sejak sekolah, dan akibatnya harus putus sekolah.
Hari Kedua – Tegalsari dan Tiga Desa

Di hari kedua, saya menuju KTH Rimba Asri di Desa Tegal Sari dan KTH Wana Mukti, yang merupakan gabungan dari tiga desa: Sidomukti, Arjosari, dan Arjomulyo. Saya ditemani Ibu Lili Sukarni, salah satu Pengurus KOSTAJASA. Kami memulai kegiatan agak siang untuk menyesuaikan waktu anak-anak pulang sekolah. Meski demikian, semua berjalan lancar dan penuh kehangatan.
Hari Ketiga – Sikayu, Karang Sari, dan Sidoagung

Hari terakhir, saya ditemani Mas Galuh—mahasiswa magang dari Fak. Kehutanan UGM—untuk membagikan santunan di KTH Karya Sari di Desa Sikayu dan Desa Karangsari. Siangnya, kami melanjutkan ke KTH Wono Dadi di Desa Sidoagung.
Selama tiga hari kegiatan berlangsung, Alhamdulillah semuanya berjalan lancar. Namun, ada satu hal yang terus terngiang dalam pikiran dan hati saya: di sekitar kita, masih banyak anak-anak yang hidup dalam keterbatasan, baik secara ekonomi maupun kasih sayang keluarga. Semoga kegiatan ini dapat menumbuhkan rasa cinta kasih antar sesama, serta membangun harapan bagi anak-anak yatim yang kurang beruntung.
Saya berharap akan semakin banyak orang yang peduli dan mampu secara ekonomi untuk turut membantu anak-anak di sekitar mereka. Dan untuk KOSTAJASA, semoga kegiatan santunan seperti ini bisa terus dilanjutkan setiap tahun—agar kehadiran kami benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat di wilayah dampingan.


Leave a Reply