KOSTAJASA dan Komitmen Sosial di Bulan Suro

Penulis : Naufal Ozora – Mahasiswa Magang dari Fakultas Kehutanan UGM

KOSTAJASA memiliki komitmen tahunan untuk memberikan santunan kepada anak-anak yatim piatu dan lansia di desa-desa yang kelompok tani hutannya (KTH) berada di bawah naungan kami. Dalam satu tahun, kegiatan santunan dibagi menjadi dua momen: pada bulan Suro untuk anak-anak yatim piatu, dan pada bulan Ramadhan untuk para lansia/kaum dhuafa. Kegiatan ini merupakan bentuk nyata dari penerapan aspek sosial dalam pengelolaan hutan lestari. Lebih dari sekadar kewajiban, kegiatan ini telah terbukti memberi dampak positif—mulai dari meningkatkan empati masyarakat hingga mempererat hubungan antara KOSTAJASA dan komunitas desa dampingan.

Empat orang berdiri di depan rumah sederhana, terdiri dari seorang pemuda, seorang anak laki-laki, dan dua orang lansia. Pemuda mengenakan kaus hitam dengan logo, dan anak laki-laki mengenakan kaus kuning. Lansia satu mengenakan baju hijau dan sarung, sementara yang lain mengenakan pakaian batik dan kopiah.

Pada kesempatan kali ini, saya merasa sangat bersyukur bisa terlibat langsung dalam rangkaian santunan anak yatim piatu yang berlangsung pada Senin hingga Rabu, 14–16 Juli 2025. Total ada 22 KTH di 20 desa yang menjadi lokasi pembagian, dengan masing-masing KTH mendapatkan kuota 10 anak penerima.

Perjalanan saya dimulai pada hari pertama, Senin, 14 Juli 2025, bersama Pak Muhimin (staff Kostajasa), yang bertugas di Desa Candi (KTH Wana Makmur) dan Desa Giripurno (KTH Subur Mulya). Sejak pukul 9 pagi, kami mulai menyambangi rumah-rumah penerima yang sebelumnya telah didata. Saat mengunjungi mereka, perasaan syukur tak henti saya rasakan—karena saya masih dikaruniai kedua orang tua yang lengkap. Sebaliknya, mayoritas anak-anak yang kami temui hidup bersama nenek atau kerabatnya. Kehidupan mereka sangat sederhana, bergantung pada hasil hutan karena tinggal di wilayah KTH.

Tiga orang berdiri di depan rumah, dengan seorang lansia mengenakan baju tradisional dan dua orang pria muda berbusana sekolah dan kasual.

Hari kedua, Selasa, 15 Juli 2025, saya mendampingi Pak Darsimin (staff Kostajasa) membagikan santunan di Desa Sukomulyo (KTH Sari Tani) dan Desa Giyanti (KTH Sri Mulyo). Khusus di Desa Giyanti, akses menuju lokasi sangatlah menantang. Jalan berbatu, banyak bagian rusak, dan kontur wilayah yang berada di perbukitan membuat perjalanan terasa berat. Mayoritas rumah yang kami datangi pun masih sangat sederhana—berdinding kayu yang mulai lapuk dan lantai semen polos. Namun di tengah keterbatasan itu, anak-anak tetap bersemangat sekolah dan mengikuti kegiatan mengaji setiap sore. Keteguhan mereka sungguh menginspirasi.

Seorang pria muda berbaju seragam duduk di lantai berinteraksi dengan seorang pria tua tanpa baju di dalam ruangan dengan dinding berwarna biru.

Hari ketiga, Rabu, 16 Juli 2025, saya bersama Pak Upi (staff Kostajasa) menuju Desa Peniron (KTH Sumber Rejeki). Lokasi ini merupakan salah satu yang paling jauh dari kantor KOSTAJASA, berada di ujung timur wilayah dampingan dan langsung berbatasan dengan Kota Kebumen. Di desa ini, ada satu rumah anak yatim piatu yang terletak di tengah hutan. Untuk mencapainya, kami harus berjalan kaki karena tidak ada akses kendaraan. Tapi rasa lelah terbayar lunas saat melihat senyum mereka saat menerima santunan. Dari wajah polos itu, terpancar rasa syukur dan kebahagiaan yang tulus.

Dua orang berdiri di tengah hutan, satu mengenakan pakaian merah dan satu lagi mengenakan pakaian merah muda, dikelilingi oleh pohon-pohon hijau.

Leave a Reply

Discover more from Kostajasa Community Forest

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading