Penulis: Darsimin – Staff Produksi & CoC
Bulan Suro bukan sekadar penanda tahun baru dalam kalender Jawa. Ia juga membawa makna spiritual yang dalam—waktu untuk merenung, berdoa, dan berbagi. Dalam semangat kebaikan dan kepedulian itu, KOSTAJASA kembali mengadakan kegiatan Santunan Anak Yatim dan Piatu. Ini adalah bentuk nyata dari harapan, agar tahun yang dijalani dipenuhi keberkahan.
Tahun ini, santunan disalurkan di 22 Kelompok Tani Hutan (KTH) yang tersebar di 20 desa, 8 kecamatan, dan 2 kabupaten: Kebumen dan Banyumas. Setiap KTH menerima kuota untuk 10 anak penerima santunan. Kegiatan berlangsung selama tiga hari, dari Senin hingga Rabu, 14–16 Juli 2025.
Hari Pertama – Senyum dari Watuagung

Perjalanan saya dimulai dari Desa Watuagung, tepatnya di KTH Wana Dadi. Saya ditemani salah satu pengurus setempat untuk menyusuri rumah-rumah anak-anak yatim yang telah didata sebelumnya. Meski medannya tidak mudah, semangat kami tidak surut. Sambutan hangat dan senyum polos anak-anak yang kami temui menjadi penyemangat tersendiri. Di balik wajah mereka yang masih begitu muda, tersimpan ketegaran luar biasa dalam menjalani hidup yang tidak mudah.
Hari Kedua – Cerita Nur Fajriyah dari Giyanti

Di hari kedua, saya menuju dua desa: Sukomulyo (KTH Sari Tani) dan Giyanti (KTH Sri Mulyo), bersama Mas Noval—mahasiswa magang dari Fak. Kehutanan Universitas Gadjah Mada. Kami disambut oleh pengurus KTH dan masyarakat setempat yang turut membantu proses pembagian.
Salah satu momen yang membekas bagi saya adalah saat bertemu Nur Fajriyah, seorang siswi kelas 2 SMP di Desa Giyanti. Ia tinggal bersama ayahnya yang bekerja serabutan. Sejak ibunya meninggal, sang ayah menjadi satu-satunya tempat bergantung. Saat menyampaikan santunan, Nur tersenyum malu—senyum yang terasa hangat dan tulus, meski jelas terlihat perjuangan di balik matanya.
Hari Ketiga – Harapan Tumbuh di Tengah Keterbatasan

Di hari terakhir, kami mengunjungi dua titik lagi: KTH Tani Makmur di Desa Wonoharjo dan KTH Sido Mulyo di Desa Wagirpandan. Wilayah ini cukup jauh dari pusat kota dan kondisi jalan tidak selalu bersahabat. Tapi semangat kami terbayar tuntas ketika melihat keceriaan anak-anak yang menyambut kedatangan kami. Mereka menerima santunan dengan rasa syukur yang tak terucapkan, dan itu lebih dari cukup untuk membuat lelah kami tak terasa.
Kegiatan santunan ini memang hanya berlangsung tiga hari, tapi nilai yang ditanamkan jauh lebih dalam dari itu. Semoga kedepan, kegiatan seperti ini bisa terus berjalan dan menjangkau lebih banyak lagi anak-anak yang membutuhkan. Karena seperti kata pepatah, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama.”


Leave a Reply