Empat mahasiswa Universitas Putra Bangsa baru saja menuntaskan kuliah kerja lapangan di Kostajasa—momen sederhana yang terasa istimewa, karena untuk pertama kalinya ada kampus dari Kebumen yang belajar langsung di koperasi hutan rakyat ini. Selama ini, nama-nama besar seperti UGM atau IPB lebih dulu datang, mengirim mahasiswa dari S1 hingga S2 untuk magang, penelitian, bahkan capstone project. Kehadiran kampus lokal memberi harapan baru: bahwa pengetahuan dan pengalaman tak hanya mengalir keluar daerah, tapi juga berakar di tanah sendiri.

Di lapangan, mereka ikut dalam kegiatan produksi log bersama staf produksi dan tim tebang Kostajasa. Bukan sekadar melihat, para mahasiswa ini mencoba aplikasi produksi yang baru dirampungkan beberapa minggu lalu—sebuah sistem sederhana yang hanya butuh waktu sebulan untuk dikembangkan, namun kini menjadi alat penting bagi pencatatan data di hutan rakyat. Melalui pengalaman itu, mereka belajar bagaimana inovasi teknologi bisa lahir dari kebutuhan sehari-hari petani, dan langsung teruji di lapangan.

Dari kawasan hutan rakyat, mereka bergeser ke sumber-sumber air. Mahasiswa itu ikut melakukan monitoring mata air, mengambil sampel dari berbagai titik di wilayah Kelompok Tani Hutan Kostajasa. Di setiap mata air, mereka belajar bagaimana keberlanjutan hutan rakyat berhubungan langsung dengan kualitas air sebagai sumber air minum masyarakat. Aktivitas ini memberi mereka pemahaman yang jarang ditemui di ruang kuliah: bahwa setiap tetes air adalah cermin dari kondisi hutan rakyat di sekitarnya.


Pengalaman lain datang saat mereka duduk bersama ratusan petani dalam pertemuan Triwulan Kostajasa. Di ruangan itu, para mahasiswa mendengar bagaimana koperasi menyampaikan laporan kegiatan, membahas rencana jangka pendek, sekaligus membuka forum diskusi dengan perwakilan KTH. Bagi mereka, pertemuan ini bukan hanya sekadar rapat, melainkan gambaran nyata bagaimana tata kelola hutan rakyat bersertifikat internasional FSC dan IFCCdibangun dari bawah, dengan mendengar dan mencatat suara setiap anggota Kelompok Tani Hutan (KTH).

Bagi Kostajasa, kehadiran mahasiswa lokal bukan sekadar menambah daftar kampus yang pernah belajar di sini. Ada kebanggaan tersendiri melihat generasi dari tanah Kebumen mulai ikut terlibat, belajar, dan menyerap nilai-nilai yang lahir dari hutan rakyat. Harapannya, pengalaman ini akan menjadi benih yang tumbuh besar: melahirkan pengetahuan baru, riset yang relevan dengan daerah, dan keterlibatan anak muda untuk menjaga hutan rakyat dan masyarakatnya di masa depan.


Leave a Reply