Penulis : Siti Fatimah Ayu Setiya Ningrum
Pada Rabu, 25 Februari – Jumat, 27 Februari 2026, saya bersama rekan-rekan staf Koperasi Serba Usaha Taman Wijaya Rasa (KSU Kostajasa) turun langsung ke lapangan untuk menyalurkan santunan kepada kaum duafa. Kegiatan ini menjangkau 22 Kelompok Tani Hutan (KTH) yang tersebar di 20 desa, 8 kecamatan, dan 2 kabupaten.
Syukur alhamdulillah, saya dan rekan-rekan mendapat amanah untuk membagikan santunan tersebut di 7 KTH dampingan Kostajasa, yaitu KTH Rimba Asri Desa Tegalsari, KTH Wana Mukti Desa Sidomukti, KTH Rindang Jaya Desa Arjomulyo, KTH Tunas Sari Desa Jogomulyo, KTH Tugu Makmur Desa Tugu, KTH Ngudi Waluyo Desa Pringtutul, dan KTH Karya Sari Desa Sikayu.
Dari 7 Kelompok Tani Hutan (KTH) tersebut, diambil 10-16 calon penerima santunan di masing-masing kelompok dari usulan pengurus KTH dengan kriteria sangat layak membutuhkan bantuan. Dalam menjalankan kegiatan tersebut, saya dan staf yang lain didampingi oleh ketua KTH dan beberapa kepala wilayah setempat yang bisa diandalkan sebagai penunjuk alamat calon penerima santunan.
Perjalanan dari rumah ke rumah membawa saya pada perjumpaan yang sangat menggetarkan hati. Tibalah saya bersama rekan-rekan di Desa Karangsari, Kecamatan Buayan, di kediaman Ibu Tri Isnaini. Ada dunia di atas dipan tua. Di tengah hiruk-pikuknya dunia, beliau justru hidup hanya sebatang kara dengan kondisi yang serba terbatas. Di usianya yang tak lagi muda, beliau harus mengurus dirinya sendiri.
“Sepi…” katanya. “Saya dulu hidup dengan adik Saya… tapi sudah tiada. Sekarang Saya hidup sendirian, mata Saya juga kurang jelas.”
Sedih hati Saya ketika melihat sekeliling, tak ada bahan makanan yang terlihat di rumahnya. Hanya ada botol-botol bekas air mineral di meja rapuh yang diisi kembali dengan air untuk minum, katanya.

(Gambar: Potret Ibu Tri Isnaini, Karangsari, Buayan)
Kembali saya bersama tim melanjutkan perjalanan untuk menyapa saudara-saudara kita yang membutuhkan perhatian dengan uluran tangan kita. Hari itu, saya dan tim berada di Desa Sikayu, Kecamatan Buayan. Di sudut pekarangan, dari kejauhan saya melihat rumah tua yang masih cukup layak untuk dihuni, meskipun sederhana tanpa cat dan dekorasi lainnya.
Tibalah saya bersama tim di kediaman Bapak Ponimin. Di situ, saya meraih tangannya untuk berjabat tangan. Beliau seorang penyandang tunanetra dan hidup seorang diri. Meskipun cahaya lampu menemaninya, tapi tak berarti apa-apa untuknya. Dunia mungkin nampak gelap di pelupuk matanya, namun cahaya syukur tak pernah padam di relung hatinya. Tak banyak kata, beliau hanya menunduk sembari berterima kasih kepada kami berkali-kali. Sebuah kehormatan bisa berdiri di sampingnya. Mungkin Bapak Ponimin tidak bisa melihat wajah kami, namun saya dan rekan-rekan yakin beliau merasakan ketulusan kami yang hadir untuk menyapanya. Dari sini saya belajar, penglihatan yang abadi adalah menerima garis takdir.

(Gambar: Potret Bapak Ponimin, Sikayu, Buayan)
Besar harapan saya, langkah yang kami jejakkan bukan sekadar singgah lalu hilang. Semoga sapaan dan aksi serupa bisa menginspirasi banyak orang dan pemangku kepentingan, khususnya untuk memperhatikan, memberi dukungan, dan harapan untuk melanjutkan hidup kepada saudara-saudara kita di luar sana. Karena bagaimanapun, hidup harus tetap berjalan.

Leave a Reply