Penulis : Khonsa’ Hanifah – Project Officer Kostajasa

Tanggal 25 Februari 2026 menjadi hari pertama pelaksanaan santunan kaum duafa yang dilakukan hampir secara menyeluruh di beberapa titik desa-desa pilihan. Kegiatan santunan yang dilakukan pada bulan Ramadan ini menjadi lebih berarti bagi beberapa orang, terutama bagi Saya pribadi sebagai seorang muslimah.
Selain beribadah puasa dan tarawih, kegiatan pemberian santunan ini menjadi salah satu aktivitas baru untuk Saya di bulan Ramadan. Selain karena memang bagian dari tanggung jawab Saya dalam menjalankan amanah santunan dari kantor Kostajasa, saya mendapatkan esensi dari bersosialisasi secara langsung dengan kaum duafa. Tempat-tempat yang Saya datangi sebagian besar berada di pegunungan dengan tantangan jalan yang cukup terjal, berlumut, dan licin karena hujan. Beruntungnya, saat itu Saya dibantu oleh tim manajemen lainnya, Supriyono (Upi) dan Muhimin Aji Susanto (Imuh) dalam mobilisasi door to door menuju tempat tujuan. Santunan dari rumah ke rumah kami lakukan agar dapat merasakan langsung kondisi dan keterbatasan yang dialami saudara-saudara kita kaum dhuafa. Kami percaya bahwa bantuan terbaik adalah yang diberikan dengan hati, tanpa perlu banyak ditampilkan, demi menjaga keikhlasan dan martabat mereka yang kami bantu.
Kaum duafa yang saya temui memiliki kondisi yang beragam. Sebagian besar adalah lansia dengan keterbatasan fisik. Ada yang masih bisa bergerak tanpa bantuan alat, ada yang bergerak menggunakan alat bantu seperti tongkat kayu, kruk, hingga kursi roda, dan ada juga yang memerlukan usaha lebih hanya untuk beranjak dari tempat tidurnya.
Selanjutnya, ada beberapa yang masih beruntung memiliki tempat tinggal layak dengan orang lain yang mendampingi, namun ada juga yang hanya tinggal di rumah seadanya. Rumah dengan bagian depan dinding kayu dan lantai berupa tanah masih banyak Saya jumpai, salah satunya di Desa Wagirpandan.
Kunjungan ke rumah tersebut menjadi semakin memorable di ingatan saya karena ada unsur humor di dalamnya. Pak Istaja, Ketua KTH Sido Mulyo yang membantu kami mengantarkan santunan menuju rumah-rumah tersebut, melakukan kekeliruan kecil sebelum bertamu. Beliau salah mengetuk papan yang dikiranya adalah sebuah pintu, memang hampir semuanya sama baik dinding maupun pintu bentuknya. Dengan ekspresi bingung, secara tidak sengaja Pak Istaja membuat kami yang ikut dalam kegiatan santunan tertawa atas kejadian tersebut.
Kegiatan ini secara garis besar memiliki tujuan untuk memberikan santunan secara langsung kepada kaum duafa. Namun, ada perkara yang sama pentingnya dari sekadar memberikan materi, yaitu membuat kegiatan ini menjadi lebih bermakna ketika kita tahu dan paham mengenai kondisi yang dialami oleh mereka. Melalui beberapa obrolan ringan—seperti menanyakan kabar, kegiatan apa yang sedang dilakukan, dan bersama siapa beliau tinggal—dapat menjadi salah satu cara untuk membangun kedekatan emosional di antara kami.
Sangat disayangkan, saya belum bisa mengulik kisah di balik setiap kondisi yang dialami oleh para kaum duafa, sehingga makna kegiatan ini saya ambil dari apa yang saya lihat, dengar, dan rasakan dari perjalanan singkat itu.
Melihat lansia yang masih bekerja keras di sawah, lansia yang masih bisa tersenyum meskipun penglihatan dan pendengarannya menurun, serta lansia yang masih tetap hidup meskipun dikelilingi rasa sepi karena ditinggalkan anak-anak dan teman-temannya, menjadi sarana refleksi diri bagi saya yang masih terbilang muda. Hal ini membuka mata hati Saya bahwa Saya masih lebih beruntung dibandingkan sebagian orang yang Saya temui selama perjalanan ini. Perjalanan santunan kali ini ditutup pada tanggal 27 Februari 2026 dan memberikan kesan terbaik di bulan Ramadan tahun ini.

Leave a Reply