Penulis : Dwi Puspa Wulandari – Admin Officer Kostajasa
Di bulan suci Ramadan ini, Kostajasa kembali menyelenggarakan program santunan kepada kaum duafa. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, Kostajasa tetap memegang prinsip bahwa dalam proses penyerahan amplop santunan tidak perlu difoto maupun direkam. Ini ditujukan agar kami berfokus pada interaksi dengan penerima, seperti mendengarkan kisah dan keluh kesah mereka. Kami harap prinsip ini juga dapat dijalankan oleh orang atau lembaga lain, agar menjadi pengingat bahwa esensi santunan terletak pada ketulusan niat, bukan pada publikasi penyerahan santunan.
Niat untuk melaksanakan program ini harus dibayar dengan perjuangan fisik yang cukup melelahkan. Perjalanan menuju lokasi penerima santunan dapat dikatakan cukup menantang, curam, dan ekstrem. Hal ini disebabkan letak geografis penerima berada di wilayah yang sulit dijangkau. Di daerah KTH Subur Mulya Desa Giripurno dan KTH Tirto Wahono Dusun Kradenan, Karanggayam, jalanan yang dilewati cukup licin akibat hujan tak kunjung reda. Bahkan, motor yang digunakan sempat tergelincir beberapa kali. Di beberapa titik, kami harus melewati jalanan yang berada di tebing dan berbatasan langsung dengan jurang. Beberapa rumah juga tidak dapat dijangkau dengan kendaraan bermotor, sehingga harus ditempuh dengan berjalan kaki. Walaupun cukup ekstrim, di beberapa wilayah lain seperti KTH Rimba Lestari Desa Kalibening dan Lestari Jaya Desa Logandu, kami melewati banyaknya lekukan terasering dan hijaunya pegunungan yang memanjakan mata Saya.
Di balik pemandangan pegunungan yang indah, ternyata banyak dari mereka yang hidup dalam keterbatasan. Beberapa dari mereka hidup sebatang kara, pasangan hidupnya sudah meninggal, dan tidak dikaruniai anak. Ada pula pasangan lansia suami istri yang sudah tergeletak lemas di atas dipan kayu yang sudah sangat lapuk. Mereka hidup dengan mengandalkan bantuan dari belas kasih kerabat maupun tetangga sekitar. Di usia yang sudah lanjut, kondisi fisik mereka pun sudah menurun. Sebagian besar mengalami penglihatan kabur, pendengaran sudah tidak maksimal, terkena stroke, bahkan hanya bisa terbaring lemah di dipan. Beberapa dari mereka juga mengalami disabilitas, yaitu tidak dapat bicara sejak kecil. Ada pula yang mengalami depresi karena kondisi keluarga hingga dia tidak lagi memiliki semangat hidup.

Selain keterbatasan fisik, kondisi rumah mereka juga memprihatinkan. Banyak dari mereka hidup di rumah tidak layak huni. Bangunan sudah rapuh, dinding mulai lapuk, dan atap rumah bocor, sehingga air hujan dapat masuk secara mudah ke dalam rumah, membuat kondisi tidak nyaman untuk ditempati. Ruangan yang tersedia pun cukup sempit, lembab dan berlantai tanah, bahkan beberapa rumah masih hidup berdampingan dengan ayam di dalam rumahnya. Keadaan ini tentu jauh dari kata layak, sehingga semakin menggambarkan beratnya kondisi hidup yang mereka jalani sehari-hari.

Proses pemberian santunan diawali dengan perkenalan tim serta penyampaian sekilas mengenai Kostajasa. Saat menerima santunan, raut wajah mereka tampak bingung. Beberapa dari mereka tidak menyangka akan mendapatkan santunan tersebut. Ada pula yang terharu hingga meneteskan air mata. Saat santunan diberikan, terpancar rasa syukur dan ketulusan yang mendalam. Mereka mengucapkan terima kasih dan memanjatkan doa secara tulus, seperti, “Terima kasih, semoga diberikan kesehatan, diberikan keberkahan, dimudahkan dalam segala urusan, dan Kostajasa semakin sukses.”
Momen haru ini menjadi pengingat bagi kita semua akan esensi kemanusiaan dan kewajiban spiritual yang melekat pada setiap rezeki yang kita miliki. Sebagai makhluk sosial, manusia tidak dapat hidup sendiri serta membutuhkan bantuan, sehingga sebaiknya kita dapat membantu orang-orang yang berada dalam keterbatasan. Islam mengajarkan bahwa pada sebagian rezeki yang kita peroleh, ada hak orang lain di dalamnya. Salah satu ayat yang menegaskan hal tersebut adalah Surah Az-Zariyat ayat 19: “Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta maupun yang tidak.”

Leave a Reply