Penulis : Muhimin Aji Susanto – Staff Produksi Kostajasa
Bulan Ramadan adalah bulan yang penuh berkah, ampunan, dan kasih sayang. Untuk meningkatkan rasa kepedulian terhadap sesama, Kostajasa kembali mengadakan kegiatan santunan untuk kaum duafa. Selama tiga hari, Kostajasa menyalurkan santunan tersebut. Ramadan tahun ini terasa lebih ramai karena ada tiga tim yang bertugas menyalurkan santunan di seluruh Kelompok Tani Hutan (KTH) dampingan Kostajasa, yang tersebar di 22 desa, 8 kecamatan, dan 2 kabupaten.
Saya sendiri masuk ke dalam tim Supriyono (Upi) dan Khonsa’ Hanifah (Khonsa’). Tim kami mengemban tugas menyalurkan santunan di 8 KTH. Pada hari pertama, tim kami menyelesaikan santunan di 3 KTH. Pagi harinya, kami memulai dari satu-satunya KTH yang ada di Banyumas, yaitu KTH Wana Dadi, Desa Watuagung, Kecamatan Tambak. Tahun ini aturannya masih sama dengan tahun lalu, di mana Kostajasa membagikan santunan ke 10 orang di tiap KTH. Disana, kami berkeliling mengunjungi satu per satu penerima santunan didampingi oleh Pak Muchari selaku tokoh masyarakat dan pengurus KTH Wana Dadi.
Perjalanan berlanjut ke tujuan kedua, yaitu KTH Sido Mulyo, Desa Wagirpandan, Kecamatan Rowokele. Di sana, tim kami didampingi langsung oleh ketua KTH, Bapak Istaja. Di KTH Sido Mulyo pun kami membagikan santunan kepada 10 kaum duafa. Menjelang sore, tim kami pindah ke KTH ketiga, yaitu Karya Dadi, Desa Bumiagung, Kecamatan Rowokele. Di KTH ini, tim kami didampingi Mas Mujimin selaku pengurus.
Ada cerita haru dan menyentuh selama memberikan santunan di tiga KTH pada hari pertama ini. Di KTH Karya Dadi, kami bertemu dengan Mbah Satinah. Menurut pengakuannya, beliau berusia 111 tahun. Beliau bercerita bahwa ia merasa kesepian tinggal sebatang kara di rumah tua. Beliau juga mengatakan teman-teman sebayanya sudah meninggal semua. Dengan nada datar, beliau justru berkata “Nyong selak pengen nyusul batir-batirku…” (Saya keburu ingin menyusul teman-teman Saya yang sudah meninggal duluan…) Saya kaget sekaligus merinding mendengar ucapan beliau itu.

Di hari kedua, kami mengemban tugas di 3 KTH yang berada di satu desa, yaitu Wonoharjo, Kecamatan Rowokele. Desa ini termasuk desa terluas di Kebumen. Melihat letak geografisnya yang luas dan berupa pegunungan, maka dibentuklah tiga KTH di Desa Wonoharjo. Karena semua KTH yang akan kami datangi berada di area pegunungan, perjalanan ini membutuhkan kehati-hatian ekstra dan APD lengkap. Selain jalan yang naik-turun, kondisi jalan juga licin karena diguyur hujan pada malam harinya.
Pertama, kami ke KTH Giri Mulyo, Dukuh Beji. Di sana, tim kami didampingi ketua KTH setempat, Pak Amin Suparno. Selesai di KTH pertama, kita lanjut ke KTH Tani Makmur, Dukuh Sawangan. Dalam kegiatan ini, tim kami didampingi oleh anggota KTH, Pak Sastro Wikarto. Siang harinya sehabis istirahat, kita langsung lanjut ke KTH Mulyo Sari di Dukuh Wanasari. Di sana, kami didampingi ketua KTH, Bapak Sapin. Karena jalannya yang naik-turun dan ada juga yang tidak bisa dilewati kendaraan bermotor, kami harus berjalan kaki untuk mencapai lokasi. Kegiatan di hari kedua ini terasa sangat menguras tenaga, apalagi dalam keadaan berpuasa. Tetapi, walaupun lelah, kita tetap semangat sampai akhirnya kegiatan hari kedua selesai.

Walaupun di hari ketiga hanya tersisa dua KTH, namun sejak pagi sudah ada kendala, yaitu hujan lebat. Meski hujan tak kunjung reda, tim kami tetap mulai jalan ke lokasi penerima santunan dengan memakai jas hujan. Disana, kami didampingi Ketua KTH Sri Mulyo, Pak Samiardi.
Menjelang akhir kegiatan, terjadi kendala lagi. Karena jalan bebatuan yang mulai rusak, salah satu ban motor tim kami bocor. Akhirnya, saya memisahkan diri dari tim untuk mencari bengkel tambal ban. Ada dua bengkel yang saya datangi. Bengkel pertama, mekaniknya sedang pergi. Akhirnya saya putuskan jalan lagi ke bengkel kedua, namun ternyata mereka tidak melayani tambal ban dan ganti ban. Saya hanya meminta tambah angin dan lanjut ke bengkel terdekat lagi yang ada di luar Desa Giyanti dan sudah masuk Desa Sempor. Setelah selesai dengan tragedi ban bocor, saya kembali bergabung dengan tim dan lanjut ke KTH terakhir, yaitu KTH Sari Tani, Desa Sukomulyo. Di sana, tim kami didampingi pengurus KTH, Pak Nasiman. Dalam kondisi gerimis, kita tetap jalan untuk menyelesaikan amanah dan tugas dari kantor.

Tiga hari sudah tim kami berkeliling ke 8 KTH dalam kegiatan santunan duafa ini. Banyak hal yang dapat kami pelajari dan renungkan setelah kegiatan berakhir. Kegiatan santunan bulan Ramadan ini bukan hanya agenda tahunan, melainkan momentum untuk membersihkan hati dari rasa egois serta meningkatkan rasa empati dan kepedulian kita terhadap sesama.
Setiap santunan yang kita beri, terselip doa-doa tulus yang tak terdengar tapi terasa. Hal itu terlihat dari ucap syukur mereka yang tak henti-henti, serta senyum penuh haru dan bahagia. Bukan tentang seberapa besar yang kita beri, tetapi seberapa tulus kita saat memberi. Semoga dengan adanya kegiatan santunan duafa Kostajasa ini, akan lebih banyak senyum dan doa yang kita dapatkan, serta meningkatkan rasa syukur kita pada nikmat Tuhan yang sering kita anggap biasa.

Leave a Reply