Konon, jasadnya tidak membusuk, melainkan menebarkan aroma harum yang diyakini mampu menyembuhkan berbagai wabah penyakit. Kisah ini bukanlah sekadar legenda pengantar tidur bagi masyarakat Desa Bogangin, Kecamatan Sumpiuh Kabupaten Banyumas. Keharuman nama Mbah Kyai Sapanyana telah terdengar melintasi batas negara hingga ke Brunei, Malaysia, dan Filipina. Begitu dihormatinya tokoh ini, banyak pihak luar yang meyakini jasad beliau telah dibawa ke Demak pada masa lampau. Namun, narasi sejarah yang lebih autentik kami temukan saat tim manajemen KOSTAJASA berkunjung ke Bogangin untuk melakukan pemantauan aspek sosial dan lingkungan. Di sana, kami berkesempatan mewawancarai Pak Jafar Sodik, narasumber setempat yang masih hafal dan menjaga ingatan tentang kisah sang kyai. Pak Jafar meyakini dengan teguh bahwa Mbah Sapanyana masih bersemayam di Bogangin, sebuah keyakinan yang ia pegang setelah mendapat amanah spiritual melalui mimpi untuk merawat makam tersebut secara sukarela.


Makam keramat yang dijaga oleh Pak Jafar itu kini berdiri berseberangan dengan Pendopo Gondo Arum Sigede, menyimpan sejarah panjang yang menjadi pilar terbentuknya Desa Bogangin, wilayah yang dipercaya sudah ada jauh sebelum Banyumas. Berdasarkan tuturan Pak Jafar, Mbah Sapanyana dulunya adalah seorang Patih Kerajaan Majapahit bernama Sinu Ndanu. Perjalanan spiritual membawanya memeluk Islam setelah beradu kesaktian dengan Sunan Bonang di Tuban, hingga akhirnya ia berganti nama menjadi Syekh Jambu Karang. Saat melanjutkan syiar agamanya ke Bogangin, ia bertemu dengan ulama setempat, Kyai Hasan Kasturi. Nama “Sapanyana” pun lahir dari sebuah kejadian luar biasa ketika Kyai Hasan mendapati Syekh Jambu Karang sedang “mandi api” di tengah kobaran kayu tanpa terluka sedikit pun. Dari peristiwa magis itulah julukan “Sapanyana” yang berarti “tidak disangka-sangka” disematkan kepadanya hingga akhir hayat.
Jejak perjuangan dan kesaktian tersebut tak hanya hidup dalam ingatan kolektif warga Bogangin, tetapi juga dirawat secara fisik di Pendopo Gondo Arum. Pendopo ini diyakini sebagai tempat penyimpanan alat-alat keramat turun-temurun yang dahulu digunakan untuk membuka atau babat alas wilayah desa. Di dalamnya tersimpan pusaka peninggalan Kerajaan Demak hingga Pangeran Samber Nyawa dari Kerajaan Solo, meliputi pedang, tombak, dan keris unik bernama Naga Kembar. Setiap tahun, pusaka-pusaka ini dibersihkan melalui ritual jamasan yang beriringan dengan kegiatan kirab masyarakat di bulan Muharram atau Suro, memastikan tradisi leluhur tetap terjaga.
Bagi KOSTAJASA, pengelolaan kelestarian hutan rakyat tidak akan pernah utuh jika kita mengabaikan akar sosial dan budaya masyarakat yang merawatnya. Upaya menghormati situs budaya seperti makam Mbah Sapanyana dan Pendopo Gondo Arum adalah wujud nyata bahwa pelestarian alam dan kebudayaan desa merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan. Kisah ketekunan warga Bogangin dalam menjaga tradisi ini mengajarkan kita sebuah prinsip yang mendasar: bahwa apa pun yang kita rawat dengan sungguh-sungguh hari ini, baik itu kearifan leluhur maupun rimbunnya hutan rakyat, akan terus menebarkan kebaikan dan manfaat yang berkelanjutan bagi generasi di masa depan.

Leave a Reply