Di desa, sejarah sering kali hidup melalui folklore, cerita rakyat yang bernapas dan berevolusi dari satu generasi ke generasi berikutnya. Ia bisa bercabang dan memiliki lebih dari satu versi, namun tetap bermuara pada satu tujuan yang sama: memberi ruh dan identitas komunal pada bentang alam di sekitar masyarakat.

Keunikan tradisi folklore ini terekam jelas ketika tim manajemen KOSTAJASA turun ke Desa Bogangin untuk melakukan pemantauan Nilai Konservasi Tinggi (HCV) di area Kelompok Tani Hutan (KTH) Maju Makmur. Sembari menyusuri kawasan hutan, kami duduk berdialog dengan narasumber setempat, yakni Pak Rasimin, Pak Sariman, dan mantan perangkat desa, Pak Paryo. Dari tuturan mereka, terungkap bahwa Situs Pungangan, sebuah area berupa tumpukan batuan tua ternyata menyimpan dua versi riwayat berbeda yang sama-sama berakar dari sebuah kisah “pencurian”.
Menurut ingatan kolektif yang dituturkan oleh Pak Rasimin dan Pak Sariman, Situs Pungangan dulunya murni menjadi tempat persembunyian yang begitu merakyat. Konon, di bawah tumpukan batuan tersebut, seorang pencuri minyak tanah terpaksa mengubur barang curiannya karena ia beraksi terlalu lama hingga kesiangan. Seiring bergantinya zaman menuju era kolonial Belanda, lokasi yang sunyi ini beralih fungsi menjadi titik strategis untuk “mengintai” pergerakan pasukan penjajah. Dari aktivitas pengintaian inilah, nama “Pungangan” lahir dan melekat kuat di ingatan warga hingga hari ini.

Namun, narasi yang tak kalah memikat juga hidup melalui tuturan Pak Paryo. Dalam versinya, sosok sang “maling” mengambil peran yang jauh lebih epik dan memiliki kaitan langsung dengan tokoh ulama kharismatik, Panembahan Tuan Lancing atau Mbah Tua Lancing. Beliau dikisahkan sebagai sosok “orang pintar” dari Keraton Mirit yang diutus secara khusus untuk mencuri seorang putri dari Kademangan. Ketika aksinya nyaris terbongkar, Mbah Lancing melompat melarikan diri ke arah timur menuju sebuah area pelarian yang disebut “Pengungakan”, kata yang seiring waktu pelafalannya berubah menjadi Pungangan. Pengejaran itu terus berlanjut hingga para pengawal putri kehilangan jejak Mbah Lancing di sebuah batas wilayah, yang kelak dinamakan “gedongan”, cikal bakal dari nama Dukuh Pagedongan di Bogangin.
Terlepas dari versi mana yang memuat detail historis paling presisi, keragaman cerita ini membuktikan tingginya kedudukan Mbah Lancing dalam ingatan masyarakat. Penghormatan tersebut mewujud nyata pada petilasan Mbah Lancing yang hingga kini menjadi episentrum spiritual warga. Setiap Jumat Kliwon pada bulan Suro dan Rajaban, sekitar 200 warga dari tujuh RT secara swadaya berkumpul membawa tumpeng dan menyembelih kambing untuk menggelar kenduri bersama. Semua itu dikelola tanpa juru kunci resmi, murni digerakkan oleh ikatan sosial komunitas.

Bagi KOSTAJASA, adanya ragam versi dari kisah Pungangan bukanlah sebuah kebingungan narasi sejarah, melainkan bukti betapa kayanya imajinasi sosial masyarakat Bogangin. Merawat kelestarian tegakan pohon di hutan rakyat dan mendokumentasikan folklore yang melingkupinya adalah dua hal yang tidak terpisahkan. Sebab, menjaga ekosistem alam pada akhirnya adalah langkah krusial untuk memastikan cerita-cerita yang mendefinisikan identitas desa ini terus memiliki tempat untuk diceritakan kembali.

Leave a Reply